
Cerpen “Siluet Cinta”
…. segala kata tanya berputar dikepalaku silih berganti. hingga suatu ketika… sebuah angin… yang seolah merupakan jawaban dari rasa penasaranku, menerbangkan selembar kertas dari tempat laki-laki itu. terbang… terbang… seperti layang-layang putus… terasa bagai siluet yang berjalan lambat… seolah jadi detail yang teramat penting. dan kertas itu…! tanpa sadar aku telah berdiri dan tanganku menangkap kertas yang hendak jatuh keluar jendela. dan entah kenapa sesuatu yang ada dikertas itu… yang tertulis itu.. seolah terbaca dengan begitu jelas, memaksaku membaca kata-kata yang terasa syahdu….
Baca lebih lanjut>>
________________________________________________________
Cerpen “Suara-Suara”
…… Tolonglah aku! Berilah aku sedikit cahaya. Sebab kegelapan ini membuat mataku tak bisa memejam, Sedikit pun tidak. tempat kupijak begitu hitam, sekelilingku begitu kelam. Hai engkau yang disana, kudengar suaramu lagi. Masih sayup-sayup benar. Tapi aku serasa mengenal suara itu. Dulu. Ya dulu sekali. Tapi kini suara itu membuatku mengingat kembali masa-masa yang hampir kulupa. Ya kini aku ingat. Ketika usiaku duapuluh, aku ingat betul. Sebab bapakku waktu itu sudah tiada. Hanya tinggal ibu dan aku. Sawah telah jadi belukar. Tegalan telah meranggas. Dan jiwa mudaku yang tak betah akhirnya pergi ke tempat yang disebut sebagai kota. Tak pernah kulihat waktu itu kota yang siang hari terasa begitu gagahnya. Dan malam hari begitu gemerlap seolah mengalahkan kerlip bintang dilangit. tapi kini suara yang sayup-sayup itu membuatku mulai mengerti, hatiku mulai merindukan belukar-belukar itu. Sebab orang mulai menyebut kota itu sebagai rimba belantara……
________________________________________________________
Cerpen “Sajadah”
kini aku merasa senang, sajadah yang kubeli tadi siang begitu bagusnya, aku pikir masih mending dari yang kemarin kulihat di mall. walau selisih dikit tapi tak mengapa, karena sekarang aku merasa puas……
________________________________________________________