“siluet cinta”
KANTOR
Suara detik jam dinding itu terasa seperti paku dipalu, bertalu tiada henti. membuat kepalaku pusing yang kian lama kian berdenyut. kupejam mataku untuk mengusir suara yang kian terasa ribut. satu detik, dua detik, tiga detik, entah sudah sekian menit aku memejam, suara-suara itu masih serasa menggelayut tak pernah pergi . walau aku berada diruanganku yang sejuk karena AC. tapi sejuknya serasa dingin membekukan tulang. kulihat sekeliling ruanganku dan kuhirup napas dalam-dalam seraya membuka laci meja kerjaku dan mengambil obat sakit kepala. ya… obat sakit kepala, seakan menjadi teman setiaku dikala pusing, entah itu pusing betulan atau karena pusing habis dimarahi pimpinan. tiba-tiba aku tersenyum kecil membayangkan begitu dekatnya ikatan antara aku dan obat sakit kepala, kemana-mana selalu kubawa. entah itu didalam tasku atau disaku blus kerjaku, seakan kami adalah satu, sepasang yang serasi, seolah kami adalah… tak terpisahkan. tiba-tiba aku merasa kosong membayang kan kata itu. tak terpisahkan?… tak terpisahkan?… serasa sebuah kalimat yang pernah kuingat dulu… dulu sekali. sebuah kalimat yang terasa seperti sebuah janji. sebuah kalimat yang…
” Bagaimana ruang kerja barumu? ” sontak aku kaget dan terkejut dengan kehadiran pak Setyo, segera aku pun berdiri.
” oh ya.. terimakasih pak, bagus juga dan sepertinya saya akan betah disini pak” jawabku.
” itu bagus… dan memang kamu pantas mendapatkannya setelah kerja kerasmu ” ujar pak Setyo sambil tersenyum. ” oh ya… apa kamu siap untuk besok? ” tanyanya dan aku mengangguk kecil.
” sudahlah.. tidak apa-apa.. itu memang langkah terbaik yang kamu tempuh… ketahuilah saya dan seluruh karyawan disini mendukungmu , yakin kamu bisa mengerjakan tugas-tugasmu sekarang? atau kamu perlu libur sebentar? “ tanya pak Setyo.
“ saya rasa, itu tidak perlu pak. saya yakin saya akan baik-baik saja “ kataku.
” Sepertinya keputusan perusahaan memberi posisi ini kepadamu sudah tepat. pertahankan ya… dan jangan lupa proposal untuk lusa, kita ada pertemuan dengan Darius ” kata pak Setyo melangkah keluar ruanganku sambil tersenyum kepadaku. ah… senyum itu lagi… senyum yang masih kuingat saat pertama kali aku melamar kerja di perusahaan ini. senyum yang terasa jahil dan menyakitkan.
” Hai kinan !” aku menoleh pada suara yang kukenal,
” oh kau ranti… rupanya kau… ” seruku dan beranjak dari kursi sambil berlari gembira dan memeluk ranti. kupeluk erat seperti orang yag sudah sekian tahun tak berjumpa, kupeluk seakan melepas sebuah kangen yang dalam.
” ya ampun… rasanya aku remuk seperti hendak kau lumat ” katanya seraya tertawa. dan aku pun melepaskan diri sambil ikut tertawa.
” bagus juga ruang kerja barumu… warnanya dindingnya serasi untukmu, putih gading. “ kata ranti seraya menuju mejaku. “ oh.. apa ini… “ mata ranti berbinar sambil mengambil sebuah plakat dari kayu jati yang ada diatas meja dan membaca sebuat tulisan yang tercetak seakan membaca sebuah pengumuman, “ kinan safitri, wakil direktur… hmmm “ matanya melirik kearahku dengan bibir tersenyum, “ akhirnya, setelah sekian tahun… kurasa tinggal selangkah lagi khan? “ katanya sambil meletakkan plakat ketempat semula.
“ ah bisa saja kau..” kataku tersenyum lebar. “dan meja ini… dan kursi ini… dan pemandangan dari jendela ini… seperti yang kau impikan dulu ya… ” kata ranti seraya duduk di kursiku sambil berputar dan menghadap jendela melihat pemandangan kota yang mulai merangkak senja. senja dari kota yang dulu pernah kujanji untuk kutaklukkan. senja yang dulu warnanya terasa jingga indah. warna merah lembayung yang menggurat begitu apiknya. tapi kini… warna merah itu seakan membakar mataku. perih.. perih.. ah.. segera aku membuang muka sambil memejam dan menghela napas panjang…
“oh ya… sudah siap untuk besok?” tanya ranti. besok? besok? seakan aku tak percaya bahwa orang-orang lebih mengingat tentang esok dari pada aku sendiri. apa pentingnya esok bagi mereka? seakan esok adalah hari penentuan… memikirkan esok? hati ku berdegup kencang. apa aku akan siap untuk esok? aku tak tahu… padahal sekian hari lalu aku sudah begitu yakin… aku sudah begitu siap. tapi kini? apakah aku ragu? apakah aku takut? tiba-tiba aku merasa semua jadi begitu dingin. seakan ruangan ini terasa semakin membeku.
“sudahlah, aku kan janji untuk menemanimu…” kata ranti berusaha menenangkan diriku.
“aku akan menemanimu, begitu juga sherly, hani, sarah dan mama ajeng… katanya dia juga mau ikut kita”.
sherly, hani, sarah… yah.. mereka teman baruku.. teman yang dikenalkan oleh ranti. sekitar setahun lalu. mereka teman dari dunia ranti, dunia gym, aerobik, cafe, maupun teman untuk menghabiskan waktu di sauna. pertama kali aku berkenalan dengan mereka membuatku merasa aneh. pertama kali aku melihat mereka seperti sekumpulan alien seperti aku berada ditengah dunia asing. sherly yang pirang, kurasa rambutnya memang sengaja dibuat pirang. walau umurnya sudah tak bisa dibilang muda, tetapi dunianya telah membuatnya kelihatan seperti anak kuliahan. dan hani yang tingkahnya menggoda. dan sarah yang termuda diantara kami, bagiku dia lebih mirip seorang orator. sering aku tak mengerti kata-katanya tentang emansipasi atau sesuatu tentang persamaan. baginya wanita dan pria itu seperti suatu hubungan rumus matematika yang tentu menghasilkan sesuatu secara logika.
Pernikahan sekarang menurutnya bukan lagi cincin di jari manis tetapi ibarat disematkan di jari tengah. dan mama ajeng, kami menyebutnya mama karena umurnya memang lebih tua dari kami. tak banyak yang bisa diceritakan dari dirinya karena dia sering tertutup untuk menceritakan masa lalunya. kecuali mewarisi perusahaan alat rumah tangga, pembawaannya yang kalem dan bergaya aristokrat karena dia memang keturunan keraton. dan ranti sendiri… yang pertama kali aku kenal ketika sama-sama melamar diperusahaan ini tujuh tahun lalu. walau kami berbeda bagian. dulu aku mengagumi kecantikan ranti. rambutnya hitam sebahu. agak ikal seperti aktris julia roberts. dan pembawaannya… selalu kalem. tapi kini? setahun lalu aku bingung dengan perubahannya. rambutnya direbonding lurus. dicat agak coklat. setahun lalu sejak dia mengatakan kepadaku, bahwa dia telah bebas. setahun lalu… sejak dia telah menjadi…
Janda? ya… janda. kata yang dulu membuatku memicing mata. kata yang dulu tak pernah kukira akan kusandang juga. ya esok… esok… dari hari-hari yang telah begitu terasa panjang, teramat panjang, seperti hari-hari tanpa kerikil, hari-hari yang kini terasa seperti sekumpulan ironi… ya esok… dihari palu hakim memutuskan statusku.
“ Ya ampun… melamun lagi!” seru ranti. “aku tahu apa yang akan kita lakukan untuk membuatmu merasa baikan.”
“apa itu?” tanyaku…. “ makan malam sama teman-teman dan… “ kata ranti sambil berdiri dari kursiku. “dan…? “ tanyaku lagi. “sekarang pukul lima sore… waktunya relax..!” seru ranti seraya menarik tanganku keluar ruang kerjaku. ya… aku memang merasa ingin keluar… aku merasa ingin berlari.. aku ingin melupakan semua. kulepas lari melewati lorong-lorong kantor dan menuruni anak tangga menuju tempat parkir mobil. dan segera kami pun melaju menembus kemacetan kota yang warna senjanya telah tergantikan kerlap-kerlip lampu-lampu kendaraan dan lampu-lampu jalan.
.
PERTEMUAN
Harum wangi nan segar ruangan pijat ini begitu menenangkan. harum lavender dengan campuran wangi lemon dan sesekali tercium bau kayu manis. aku sudah lupa terakhir kali aku singgah di tempat ini. “ kudengar kau akan bertemu Darius lagi“ kata ranti yang sedang dipijat disebelahku, punggungnya mengkilat karena diolesi minyak aromateraphy. matanya terpejam dengan raut seolah menikmati tiap pijatan di punggungnya.
“ kok tahu?” kataku, ranti hanya ketawa cekikikan… aku pun ikut tertawa… ya… aku sadar dijaman serba cepat ini berita bisa tersiar seperti wabah, menyebar dengan ganas dan tanpa ampun. dijaman ini, mulut bisa lebih efisien dari pada iklan di televisi. dan kurasa sebuah rahasia yang berlabel “top secret” pun tak lagi benar – benar rahasia… dan tentang darius, ah… laki-laki itu… yang selalu tampil rapi. yang selalu wangi. yang kali pertama aku diperkenalkan oleh pak setyo sebagai pengusaha masa depan. dulu… dia memang membuatku kagum… dulu… ketika hatiku masih terasa belia… hingga aku kemudian bertemu dan mengenal pria yang lain… ah… mengingat nama ini … mengingat pria ini… tiba-tiba aku merasa hatiku kini begitu terasa berat… tiba-tiba jantungku berdetak cepat. pikiranku melayang mengingat satu waktu dalam sekian tahun lalu, atau tepatnya setahun setelah aku bekerja. hari yang masih kuingat dengan jelas seolah baru terjadi kemarin. ketika aku merayakan ulang tahun ke 27. masih kuingat dengan jelas saat perkenalan kami…
“ ayo tebak… menurutmu laki-laki itu menunggu siapa? “ tanya ranti sambil kepalanya menunjuk kearah seorang pria yang tengah duduk sendiri di ditempat yang tak jauh dari tempat kami.
“ mana kutahu… mungkin pacarnya… “ kataku asal tebak
“ hmm… sayang kalau dia sudah punya. kelihatannya dia lumayan juga “ kata ranti dengan mimik jahil.
“ lumayan…? memang dia itu makanan? dasar kau… “ kataku disambut derai tawa ranti. kuperhatikan dia sesekali seperti sedang memikirkan sesuatu.. dan sesekali tangannya yang memegang bolpoin menulis di secarik kertas… aku jadi penasaran pada apa yang ditulisnya.
penasaran? ah… usil apa aku kok peduli dengan urusan orang. kualihkan pandanganku kearah lain.
“ bagaimana kabar arjunamu ?” tanyaku mencoba mengalihkan pikiranku.
“ kurasa baik-baik saja “ kata ranti tanpa ekspresi apapun. “ nanti dia kan kesini juga. katanya ada kejutan kecil untukmu “ sambungnya. “kejutan? kejutan apa? “ kataku pura-pura penasaran. “ pacarmu mana ya? dia janji datang kan? lagian aku lapar ” tanya ranti, “ pacar? siapa? Darius? dia bukan pacarku! “ seruku, “ katanya sih datang, ndak tahu ya kalau dia ada hal lain..”.
“ tapi kalian kan sudah setahun ini tampak seperti… “ kata ranti tak melanjutkan kata-katanya. “ seperti apa? “ tanyaku ranti hanya menggeleng dan mengangkat bahu. “lagi pula tidak ada yang perlu berubah diantara kami “ jawabku.
“ hmm… sepertinya belum ada yang melekat di hatimu ya? “
“ ada ! cuma satu orang “ kataku, “ siapa? siapa? “ ranti penasaran. “ kamu…!” kataku seraya tertawa dan ranti pun ikutan tertawa. tawa yang menyusup diantara harum asap sate yang dibakar, terasa gurih menggugah selera, tapi rasa penasaranku tak bisa lepas, rasa penasaranku pada laki-laki itu seolah menjadi sebuah obsesi. menunggu siapakah dia? kekasihnya kah? teman? dan apa yang ditulisnya? surat cintakah? atau malah jangan-jangan dia sedang menyusun rumus-rumus kimia? atau… atau… ah… segala kata tanya berbutar dikepalaku silih berganti. hingga suatu ketika… sebuah angin… yang seolah merupakan jawaban dari rasa penasaranku, menerbangkan selembar kertas dari tempat laki-laki itu. terbang… terbang… seperti layang-layang putus… terasa bagai siluet yang berjalan lambat… seolah jadi detail yang teramat penting. dan kertas itu…! tanpa sadar aku telah berdiri dan tanganku menangkap kertas yang hendak jatuh keluar jendela. dan entah kenapa sesuatu yang ada dikertas itu… yang tertulis itu.. seolah terbaca dengan begitu jelas, memaksaku membaca kata-kata yang terasa syahdu seperti membaca sebuah sajak.
satu kali… kubaca lagi. dua kali… kubaca lagi… indahnya kata-katanya. dan tiba-tiba aku sadar.. aku sedang berdiri seperti patung, dan ranti… mulutnya setengah terbuka sambil kepalanya memberi tanda supaya aku menoleh kearah depan…
dia !.. laki-laki itu… yang membuatku penasaran telah berdiri dihadapanku… tatapan matanya yang dalam, seolah kutemukan sebuah cahaya yang begitu hidup… seolah hari itu… kata-kata di kertas itu menjadi milikku. hari itu hatiku telah mengenal sebuah rindu………
“ sudahlah… laki-laki memang brengsek…” kata ranti menatapku. kalimatnya datar, tanpa intonasi, tanpa disertai gurat emosi, diucapkannya seperti telah terbiasa. aku kaget, sepertinya ranti bisa membaca pikiranku yang tengah mengingat masa lalu. ranti tersenyum dan kemudian matanya terpejam menikmati pijatan di punggungnya. aku hanya bisa menatap ranti tanpa bisa berkata. aku memang tak menyalahkan ranti atas kata-katanya. aku bisa mengerti ranti akan kisah hidupnya. apakah semua pria memang begitu? ah aku tak perlu senaif itu.. aku tak tahu… jika pria memang begitu, apakah pertemuan pertama kami diwarung lesehan itu hanyalah sebuah ilusi? sebuah kebetulan serupa panggung sandiwara? apakah kata-katanya yang lembut hanyalah sebuah rayuan tak bermakna? kenapa hari-hari bersamanya terasa begitu indah dan lalu kenapa suatu hari hatiku begitu rindu? rindu akan kehadirannya, rindu akan tatapan matanya, rindu akan bisikan lembutnya, rindu akan dekapannya yang menghangatkan hati? hal yang tak pernah kurasakan sebelumnya.
Jika pria memang seperti kata ranti, kenapa laki-laki itu pada suatu hari melepaskan segala ketakutan yang melekat didirinya dan membisikkan kalimat lembut ditelingaku, seolah kalimat itu membilaskan hatiku yang begitu dahaga. seolah hari itu aku merasa menjadi diriku seutuhnya.
“ kinan sayang, memandangmu serasa melihat sebuah keanggunan dalam warna putih pagi. hari-hari bersamamu telah mengisi kekosongan yang lama usai, Tiada ragu dalam hatiku untuk bersamamu mengusir kesendirian selamanya…”
tak kuduga! hari itu telah datang, hari bagi setiap insan dalam semesta yang memadu kasih untuk meniti ketempat yang tinggi. kubelai rambutnya yang hitam dan kuraih mukanya dengan perasaan sayang yang dalam. hari itu hatiku haru mengatakan sepenuh tulus yang ada…
“ ya kekasihku… tiada sedikitpun relung-relung di diriku yang ragu akan kehadiranmu, tak sedikitpun terbersit bayang-bayang semu yang pudar. selama kebersamaan kita telah kau tunjukkan ketulusan kasihmu dan telah kautunjukkan perlindungan di hatiku, dan telah kau berikan kehangatan seakan diriku terbalut sinar mentari pagi ”.
Hari itu tangisku telah menjadi bahagiaku, pasrahku telah menjadi jalanku, hari itu aku menenggelamkan diriku dalam pelukannya. hari itu hati kami saling bertaut, menjadi satu. Kutuliskan hari itu di buku harian seolah tertoreh dengan tinta emas. ku tuliskan seluruh bahagiaku, seluruh do’a ku, dan terimakasihku untuk Ayah, untuk Ibu…
“Ya ayah… Ya ibu… telah telah datang satu dari bahagiaku… terimakasihku untuk kalian berdua akan segala limpahan kasih dan sayangmu, mungkin tiada cukup kata yang pantas terucap atas pengorbanan kalian berdua yang tak terkira, terimakasih atas restumu hingga aku mempunyai panggilan bagi semua yang kusayangi… Ayahku… ibuku… dan suamiku…”
kututup buku harian dan kuambil sebuah album foto. kubuka lembar demi lembar yang berisi sebuah kisah, sebuah pesta, sebuah wajah-wajah yang gembira dan bahagia. pada lembar terakhir kudapati foto diriku dalam balutan busana putih gading seperti seorang permaisuri, dan kutuliskan disampingnya serangkai kata “ Satu Masa, Satu potret dalam hidupku, bukan karena aku harus, juga bukan karena aku wanita, tapi adalah satu perjalanan Untuk Menjadi siapa aku, dalam pilihan, impian, dan hidup yang kuinginkan”.
malam itu dan malam-malam berikutnya, kurasakan sentuhan lembut di jemariku, kurasakan sebuah kecup mesra dikeningku, di bibirku, dan tubuhku seakan melayang begitu tinggi, menggapai bulan dan bintang di angkasa. Tak terasa kebahagianku kian terpancar dengan indahnya dalam beningnya bola mata permataku, buah hatiku, buah cinta kami berdua, GITA PUSPA.
“ kinan… kau tidak tidur kan? “ suara ranti membangunkan aku dari lamunan masa lalu. tak terasa aku telah selesai dipijat. “ yuk kita mandi air hangat “ ajaknya, segera aku bangun dari tempatku dan membetulkan handuk yang membalut tubuhku. kami berjalan keluar ruangan menyusuri lorong yang di dekorasi dengan apik dalam cahaya lampu yang berpendar lembut.
kami memasuki ruangan yang dindingnya dipasang cermin sehingga terkesan luas, didalamnya terdapat dua kolam menyerupai bak mandi yang masing-masing didesain untuk bisa menampung dua orang. tiap kolam ditaburi aneka bunga sehingga bau harum terasa diseluruh ruangan. kami berdua pun masuk kedalam salah satu kolam yang airnya hangat. ku kibaskan tanganku di permukaannya hingga aneka kembang yang melayang dipermukaan ikut menyingkir ke pinggir yang kemudian kembali lagi menutupi tempat semula. kuambil segenggam kembang dan kuhirup baunya. pelan-pelan kusandarkan diriku ke dinding kolam seraya memejamkan mata.
“ Kau sedang memikirkan apa kinan ? “ suara ranti membuyarkan kesunyian “ sejak dari kantor kau sepertinya ada di dunia mimpi “.
“ Tidak apa-apa “ kataku dengan menatap ranti “ bukan apa-apa, tak penting, hanya…” sambungku dengan nada ragu dan kembali aku memejamkanmata tak melanjutkan kata-kataku.
“ Kau belum bisa melupakannya ya? “ seolah ranti bisa menjawab pertanyaannya sendiri.
aku hanya terdiam dan tersenyum kecil. “ tidak apa-apa kinan, nanti waktu juga akan melupakan sendiri. awal-awal dulu aku juga merasa sulit “ sambung ranti dan tersenyum padaku. sejurus kemudian ruangan kembali sunyi oleh suara-suara, hanya harum wangi semerbak yang terasa semarak. kuperhatikan ranti yang tengah terpejam menikmati hangatnya air kembang. segera pikiranku melayang mengingat awal-awal ranti berpisah dari suaminya. masih kuingat dulu ranti pertama kali datang kepadaku sambil menangis terisak.
“ kurasa kami berdua sudah tidak bisa disatukan !” ucap ranti menangis dalam pelukanku.
“ oh sayang… ranti sayang… kenapa tidak bisa disatukan? aku yakin kalian akan menemukan jalan “ kataku dengan suara lembut.
“ tidak… tidak kinan… aku yakin.. perbedaan-perbedaan kami… begitu berbedanya… begitu jauh… dan pertengkaran-pertengkaran kami… kenapa aku tak boleh memilikinya, membuatnya tetap bersamaku. ” kata ranti dengan suara terbata karena tangisnya.“ Dia selalu ingin pergi… aku tak mengerti… kenapa harus pergi… kenapa laki-laki jika merasa harus pergi mereka pergi begitu saja. kenapa laki-laki begitu menyakitkan hati !” .
aku tak mengerti, perbedaan? pertengkaran? jika laki-laki memang menyakitkan hati, kenapa kini aku rindu akan pertengkaran kami dulu yang kini hampir kulupa, pertengkaran kecil, kecil… terlalu kecil… terasa sepele. Jika memang laki-laki menyakitkan hati, kenapa dia selalu menghiburku dikala aku sedang marah, karena pekerjaan, karena jalan macet, karena orang usil, atau karena pencopet kurang ajar. teringat kata-katanya untuk menenangkan hatiku,
“ kinan sayang, mandilah dulu agar setan-setan dan segala sumpah serapah yang menyertainya turut pergi ”. dan kuturuti katanya seolah sebagai sesuatu yang masuk akal. kubilas diriku, kurasakan hati yang segar menggelayut. segarnya serasa embun pagi yang luruh dari daun dan ranting pohon, dari balik pintu yang terbuka sedikit, kulihat matanya yang melirik dengan jenaka seolah menarik diriku menuju dunia mimpi-mimpi yang indah. jika laki-laki memang menyakitkan hati, kenapa kini aku rindu akan sentuhannya, akan kecup mesranya, akan indahnya malam-malam yang bercerita tentang kisah-kisah asmara. mengingat malam-malam itu membuatku ingin membenamkan diriku kedalam air yang wangi oleh kembang, entah kenapa air yang mengelilingiku kini seakan membisikkan dan memperjelas pikiranku tentang pertengkaran-pertengkaran kami. mungkin kini aku tahu, hati memang tak selamanya abadi. serasa aku ingin tenggelam lebih dalam lagi hingga aku merasa tak bisa bernafas, terasa sesak oleh pertengkaran – pertengkaran yang kemudian tak tahu lagi sebabnya. atau memang kami tak lagi mau tahu sebabnya. yang teringat hanyalah mendapati diri kami dalam suara-suara teriakan yang seakan menindih kepalaku. berat dan semakin lama kian berat, aku tak sanggup lagi dan kurasakan udara terasa pekat membuat dadaku sesak. sekelilingku seakan meredup menjadi gelap. entah berapa lama kesunyian meliputiku, sayup-sayup kudengar sebuah panggilan yang kukenal,
“ Kinan.. kinan.. ! “ suara ranti mengagetkan ku, seraya tangannya meraih kepalaku keluar dari air . “ kau tak apa-apa kinan? “. ditariknya aku keluar dari kolam.
“ kau membuatku takut ! lihatlah dirimu… tubuhmu terasa dingin mengigil! “. dibalutnya aku dengan handuk tebal. aku tak bisa berkata apa-apa karena napasku tersengal-sengal. kucoba menenangkan diri. “ katakanlah kinan… katakanlah sesuatu” harap ranti.
tapi aku tetap tak bisa berkata-kata, serasa air mataku tak terbendung dan aku pun menangis lirih. “ sayang… sayang… betapa malangnya dirimu, kuharap semua ini akan usai, semua beban dan deritamu akan pergi ” hibur ranti seraya menarik kepalaku ke pelukannya. “ hati wanita memang selalu ingin memiliki. tapi masa lalu kadang ingin pergi, dan memang seharusnya mereka pergi. dan yakinlah masih ada esok dan aku akan selalu menemanimu.”
kini kurasakan harum wangi ruang ini tak lagi semerbak, air yang hangat itu telah terasa dingin, ruangan ini kini telah terasa pilu oleh tangisku yang lirih .
.
IRONI
Mobil kami telah memasuki area parkir sebuah rumah makan yang disebelah kanannya terdapat sebuah mall perbelanjaan enam lantai. dari depan rumah makan itu kelihatan asri oleh cahaya lampu pijar yang meneranginya. segera kami berdua turun dari mobil, kulirik arlojiku.
“ Jam setengah delapan “ kataku pelan, “ kita terlambat lima belas menit ”.
“ semoga mereka tidak mulai menceramahi kita “ ujar ranti. kami bergegas masuk kedalam.
sesampainya didalam kami segera menuju meja di pojok ruangan yang biasa menjadi tempat kami berkumpul. disana telah menunggu Sherly, Hani, Sarah dan mama ajeng.
“ Hai… akhirnya datang juga “ kata sherly seraya berdiri dan hani serta mama ajeng juga ikut berdiri menyambut kami dengan peluk cium.
“ maaf terlambat, sudah lama nunggunya? “ tanya ranti, “ barusan “ jawab hani.
“ untung kami jalan-jalan dulu di mall sebelah sebelum kesini. Coba kalau kami datang awal, bisa-bisa kami semua mati kelaparan menunggumu “ sambung sherly.
“ bicara soal lapar, kini waktunya pesan makanan “ kata mama ajeng seraya memberi tanda pada pelayan.
“ naik apa? “ tanya ranti. “ taksi..! “ jawab mereka berempat serempak.
“ ya ampun.. kelihatannya hari ini aku jadi sopir pribadi lagi “ canda ranti yang disambut tawa kami semua. “ oh ya, sekalian malam ini kita menginap di rumahku!” seru ranti yang disambut anggukan semua.
melihat mereka semua, seolah kehidupan yang berbeda telah mempertemukan kami dalam nasib yang sama. Dulu aku mengira mereka hanyalah sekumpulan wanita yang cuma buang-buang waktu, yang membentuk kumpulan semacam klub janda. tapi setelah mengenal mereka lebih dekat, aku jadi tahu tak mudah menjadi diri mereka seperti ini. membutuhkan waktu dan perjuangan bagi mereka untuk menjadi diri masing-masing sebagai wanita-wanita yang tegar. kini aku bagian dari mereka, seolah aku telah mengenal mereka seperti Keluargaku sendiri.
Melihat mereka sekarang yang bercanda dan tertawa seolah tanpa beban, mengingatkanku sewaktu pertama kali bertemu mereka, waktu yang samar-samar dan kini makin teringat dengan jelas. Waktu terakhir kalinya aku merasa semakin berat dan sesak oleh pertengkaran yang terasa bagai prahara . untuk pertama kalinya aku pergi meninggalkan rumah dan tinggal dirumah ranti. aku merasa terhibur oleh sikap ranti yang begitu perhatian kepadaku. Teringat Aku waktu ibu mendapati aku menangis di teras depan rumah ibu. Menangis dalam pelukan ibu, Begitu hangat serasa aku kembali kemasa kecilku. Dipeluk dan dibelainya aku dengan Kata-kata yang begitu teduh seperti berada dibawah pohon diterik matahari. Aku tak mengerti, kenapa aku tak bisa seperti ibuku. Menjalani pernikahan dengan wajah yang masih teduh. Walau pertengkaran ada antara ayah dan ibu, tapi wajah ibu tak menampakkan keletihan. Pernah suatu ketika aku mendengar pertengkaran ayah dan ibu yang aku tak tahu sebabnya. Seperti biasanya ayah dan ibu tak akan bicara dalam sehari dua hari. Yang tak kumengerti dalam diam mereka, seolah masih ada rasa kasih yang dalam, masih ada rasa sayang yang erat. Ibu masih memasakkan makan dan menyuguhkan dimeja untuk kami. Mengambilkan lauk dan pauk untuk ayah walau masih dalam diam mereka. Aku tak habis mengerti, walau mereka masih diam ibu kadang memijit ayah sepulang dari kerja. Seolah sebuah pertengkaran di antara mereka itu tak lagi penting. Suara piring berisi pesanan kami yang diletakkan oleh pelayan dimeja telah membuyarkan ingatan masa lalu.
“ Bagaimana pengacara itu? Siapa namanya? Vony ya? “ tanya mama Ajeng
“ oh ya, bagaimana kabarnya mama vony? Aku sudah lama tak mendengarnya sejak terakhir kali dia berhasil mengurus perceraianku tiga tahun lalu” kata Sherly. Hani tertawa kecil seraya berkata “ ya gara-gara mama vony jugalah aku berkenalan dengan sherly. Dulu dia yang menangani masalah kami. Dan percayalah dia pasti berhasil. Kabarnya dia tak pernah gagal dalam perkara”
mama vony, pertama kali aku dipertemukan oleh ranti. Katanya dialah pengacara paling berhasil dan sukses. Mengingat nama ini membuatku merasa seolah rasa makanan ini terasa tak menentu. Pertama kali aku berada di kantornya yang megah seolah melihat sesuatu yang amat bertolak belakang. Seperti sesuatu yang tak semestinya. Kulihat di dinding kantornya terpajang foto mama vony dan suaminya yang tampak begitu bersahaja mengapit anaknya yang mengenakan pakaian wisuda. Di dinding yang lain terpajang foto keluarga dengan ukuran besar hampir sukuran diriku. Kulihat foto itu dengan tatapan heran yang teramat aneh. Bagaimana tidak ! foto dari mama vony dan suami serta 2 anaknya sangat berkebalikan dengan pekerjaan nya sebagai…
“ ironis ya? “ suara mama vony mengagetkan aku. “ aku bisa mengerti keheranan kamu. Dan percayalah tidak hanya kamu. Yang lain juga pasti merasa heran. Aku tahu kata orang bagaimana orang yang dengan keluarga bahagia sepertiku menangani orang yang mau bercerai dan kamu tahu memang itulah pekerjaan saya, pengacara perceraian”. Aku hanya duduk diam tak berkata apapun. “ sekarang kembali kepokok permasalahan. Saya ingin tahu alasan anda untuk melanjutkan hal ini”
“alasan? Oh… maksud anda kenapa saya minta cerai?” kataku setengah bingung “ aku.. entahlah saya kurang tahu pasti.. mungkin… entahlah apa ya..”
“ sudahlah. Saya paham. Sebab saya sering menangani hal begini. Kadang awalnya memang kurang pasti. Akan tetapi dengan sedikit dorongan nanti, Kamu pasti akan tahu alasannya. Entah karena ketidak cocokan, kurang perhatian, atau yang secara umum yaitu perselingkuhan dan mungkin sesuatu yang khusus yaitu adanya kontrak.”
“kontrak?” tanyaku kurang paham. “ oh tentu… sekarang kan ada yang namanya nikah kontrak. Masa kurang tahu?” kata mama vony dengan sedikit tersenyum.
Ah… kini aku tahu manusia memang merupakan sekumpulan ironi. Kumpulan-kumpulan yang mempunyai keinginan yang begitu bermacamnya. Seolah kini aku tahu bahwa pernikahan tak cukup hanya berdasar rasa menemukan sebuah belahan jiwa. Ada sisi lain yang seolah terlupakan, ada kebutuhan, ada materi dan ada… ego.
“ jadi ada dua kemungkinan dari hal ini. Yang pertama adalah kemenangan mutlak. Percayalah ini keahlian saya. Dan saya tahu benar karena saya dibayar untuk itu bukan? Menang! Halangan dari pihak lain itu pasti ada termasuk dari…. Hmm.. saya menyebut suami anda sebagai tergugat. Anda mengerti bukan? Mulai sekarang kita menyebutnya tergugat, bukan suami ataupun keluarga. Dan percayalah begitulah hukum menyebutnya. Hanya ada tergugat dan yang menggugat. Tak lebih. Pihak yang lain bagi saya tidak penting. Dan kemungkinan kedua adalah, saya sendiri menyebutnya negosiasi seimbang”
“ negosiasi seimbang? Maksud anda kalah?” tanyaku. “ bukan! “ suara mama vony mendadak tinggi membuatku tersentak “ saya tak memakai kata itu. Sekali lagi tidak. Bukan itu. Saya paling menghindari kata itu. Sebab selama karir saya tidak pernah kalah! Kamu mengerti? Tidak ada kalah dalam kamus saya. Sebab bila keadaan tak memungkinkan untuk menang saya akan sekuat tenaga untuk mencapai keadaan yang berimbang antara dua pihak. Anda mengerti? Tidak ada kalah. Hanya negosiasi seimbang itu masih bisa saya terima. Sebab saya tak akan mebiarkan pihak lawan menang!” aku diam tak bergerak. Bibirku setengah terbuka. Seolah aku tak punya kata-kata didepan mama vony. “ dan bagaimana kita mencapai kemenangan itu? Kita harus tahu langkah lawan. Baiklah akan saya katakan kepada mu hal pertama yang akan di katakan hakim nanti. Yaitu memberi kalian waktu. Katakanlah untuk bicara. Dan berdasar pengalaman saya menghadapi orang dengan tujuan seperti kamu, bicara tidak ada artinya apa-apa. sebab tujuan semula memang tidak untuk bicara bukan? Jadi kamu nanti lebih baik diam tidak ada satu komentar apapun. Tak bicara apapun, lanjutkan kegiatanmu seperti biasanya. Sebab saya yang akan mengurus bagian bicara ini. Kamu mengerti?”. aku hanya bisa mengangguk kecil. Anggukan yang kini terasa aneh. Anggukan yang seakan menyetujui bahwa aku telah menemukan satu ironi dalam kehidupan manusia. Anggukan yang seolah seperti membuat sebuah kesepakatan yang keliru.
.
PENGAKUAN
Malam itu kami keluar dari rumah makan dan menyusuri jalan kota yang ditelan cahaya lampu kendaraan dan warna warni neon papan billboard. Warna warni yang saling berkejaran seolah mengejek malam yang tak bisa menenggelamkan kota dalam kelamnya. Seolah hendak memaklumatkan kepada malam bahwa kota kini tak lagi mengenal tidur. Sepanjang jalan menuju rumah ranti aku hanya diam dengan perasaan tak menentu. Sesekali kudengar canda dan derai tawa dari teman-temanku. Selebihnya malam ini terasa menghidupkan memori masa lalu. Masa ketika aku dalam belaian ibuku diwaktu aku remaja. Masa ketika aku masih tak mengerti tentang kata-kata ibu. Tentang wanita, pernikahan, tentang keluarga, tentang pengabdian, tentang ketulusan. Aku tak mengerti tentang sikap ibuku dikala diam dengan ayahku. Seolah pertengkaran dengan ayah bukanlah untuk saling menghindar, bukan untuk saling membuang muka. Yang ditunjukkan ibu dan ayah sungguh tak kumengerti. Seolah dalam diam mereka, rasa saling mengasihi dan cinta diantara mereka mengalahkan benci.
“ Ranti, antarkan aku melewati jalan rumahku.” Kataku tiba-tiba. Mobil yang kutumpangi terasa seperti tersentak. Suasana dalam mobil mendadak diam. Tak ada lagi canda tak ada lagi tawa. yang ada hanyalah tatapan teman-teman kearahku dengan heran.
“ kurasa itu bukan ide bagus kinan” kata ranti memecah keheningan.
“ aku hanya…” kataku dengan bingung “ aku tak tahu. Aku hanya ingin saja. Aku hanya ingin melihatnya untuk terakhir kali..”
“ kamu yakin? “ tanya ranti dan aku hanya mengangguk. “ baiklah kalau begitu… terakhir kali untuk sebuah masa lalu” kata ranti seraya melajukan mobilnya. Hatiku terasa berdegup keras ketika melewati jalan yang dulu kukenal. Jalan dengan rumah-rumah yang dulu pernah kulewati. Dan ketika mobil berhenti didepan rumah … rumah itu.. rumah dengan lampu teras yang masih menyala redup. rumah yang hampir setahun lalu… masih terasa seperti tadi pagi aku pergi. Kupandangi rumah itu seperti melihat sebuah lukisan yang kelihatan indah. Kini rasa ragu menghinggapiku. Rasa ragu yang menjadi kesedihan. Seolah ada sesuatu yang terasa lepas, Yang sebenarnya tak ingin aku lepas seperti sesuatu yang terlalu berharga. Tapi kini….
“ kinan “ kata ranti seraya menggengam tanganku. “ ada sesuatu yang ingin ku ungkapkan.. sesuatu yang kupendam lama. Sesuatu yang hingga kini masih membekas. Sesuatu yang selalu ku ingkari tapi tak pernah berhasil. Sungguh aku tak bisa melupakannya. Walau dia telah pergi. Tapi hati ku…” kata-kata ranti terasa lirih tak melanjutkan.
“ ya kinan.. tapi hatiku mengatakan. Bahwa dulu aku pernah mengenal seorang pria.” Kata sherly yang disambut anggukan hani. Mobil kembali sunyi. Sunyi oleh kata-kata kami sendiri. Sunyi oleh hati masing-masing…
“ kalian tahu? “ mama ajeng membuyarkan rasa diam kami. “ kalian tahu suamiku meninggal dalam kecelakaan pesawat? “
“ oh mama.. kami tahu itu.. mama tak perlu menceritakan kepada kami bila memang tak hendak “ kataku.
“ tidak apa-apa. Aku memang ingin dan sadar.. tak banyak yang kalian ketahui tentang masa laluku” kata mama ajeng. “ bahwa bapak itu.. entah bagaimana memulainya.. dulu.. dulu dimasa kami, masa dimana hal soal pernikahan adalah mengikuti kata orang tua kami. Kami dulu tak saling mengenal. Hanya satu kali pertemuan dengan orang tua kami. Ya begitulah pernikahan kami.. karena orang tua kami.bapak dulu memang tak kukenal. dulu tak ada rasa dalam diriku. Ya.. begitulah hari-hari… terasa canggung diantara kami. Dulu sekali.. hal mengenai kami berdua terasa aneh.. tapi bapak… “ kata mama ajeng dengan suara seakan menahan tangis… “ ya begitulah bapak, tahun-tahun berlalu dia menunjukkan kebaikan dalam keseharian. Menunjukkan perhatian yang terasa lebih. Walau kami tak pernah mengucapkan kata-kata yang romantis. Tapi aku tahu.. dia memang orang baik. Sabar… sabar sekali… dan hari itu… hari terakhir itu..” suara mama ajeng bergetar. “sebelum dia pergi… pagi itu.. dia hanya berpesan padaku.. bahwa selama dia pergi dalam urusannya, hendaknya aku bersenang-senang. menikmati hidup… dan aku seperti hari-hari lainnya.. hanya mengangguk tanpa suatu kata walau hanya kalimat selamat jalan dan dia memang pergi untuk selamanya, selamanya untuk yang telah kusesali… “
“ oh mama.. apa yang mesti disesali?” Tanya ranti
“ aku menyesal tak pernah mengucapkan, tak pernah mengungkapkan, tak pernah menunjukkan supaya dia tahu… bahwa begitu baiknya bapak. bahwa akhirnya hatiku mengetahui, sungguh aku mencintainya…” suara mama ajeng terbata. “ kini.. hanya pesan terakhir bapak lah yang membuatku tetap mengingatnya.. begitulah mama kini… menikmati hidup… bersama kalian… seperti anak-anakku sendiri”
“ oh mama… terimakasih… seakan kami tahu bahwa mama yang menjaga kami selama ini” kata ku seraya memeluk mama ajeng. Disambut senyum haru yang lain.
“ sudah-sudahlah… mama tahu untuk apa kamu kemari kinan…”
“ sungguh? Aku sendiri tak tahu..” kataku
“ kamu tahu… sungguh hatimu tahu… dan percayalah pada hatimu… kamu kesini untuk sesuatu yang ingin kamu percayai untuk terakhir kalinya. Sesuatu yang tak ingin kamu sesali seumur hidupmu bukan? “ kata mama ajeng lembut.
Aku hanya tersenyum kecil dan mengangguk pelan. “ sudahlah.. pergilah… biarkan hatimu tahu…” kata mama ajeng. kupandang mama ajeng bagai melihat sebuah kebijaksanaan. Dan satu persatu kupandang hani, sherly, sarah dan ranti. Kupandang mereka seperti memandang seorang sahabat yang terbaik. Pelan-pelan ku buka pintu mobil dan kulangkahkan kaki hingga di pintu pagar. Tapi langkahku terhenti seperti sesuatu yang berat menarikku. Seperti sebuah keraguan. Aku menoleh kearah teman-temanku dan kulihat mama ajeng mendekapkan dua tangannya ke dadanya dengan sebuah senyum yang keibuan. Seolah memberi sebuah arti. Aku pun melangkahkan kaki menuju rumah. Yang tiap langkahnya membuat hatiku berdegup kian berat. Antara ingin ku berbalik untuk lari dan mengetuk pintu rumah, sebuah sosok.. yang pernah kukenal.. dulu… ya! Laki-laki itu… yang dulu pernah ada di hati… yang dulu pernah ku rindu… yang dulu pernah membuatku memilih sebuah pilihan itu kini hadir didepanku. Aku tak tahu… apa yang mesti kulakukan? Haruskah aku memulai sebuah pertanyaan? Haruskah aku meyakinkan diri bahwa laki-laki itu kini… mungkin… sudah tidak mencintaiku lagi? Haruskah aku mengucapkan… selamat tinggal?.
Kami hanya terdiam saling menatap. Hanya hening malam yang melingkupi. Seolah semua sedang menunggu.. menunggu sesuatu terjadi. Tapi tak ada yang berubah. kini mataku serasa akan basah.. serasa aku ingin menangis… serasa aku ingin mengucapkan sebuah penyesalan… tapi tak tahu dari mana memulainya. Tiba-tiba kedua tangan laki-laki itu dijulurkan kedepannya seolah hendak menyongsongku dan aku… terasa seperti ada sebuah kekuatan yang menarikku, dan aku pun menyambutnya. Dipeluknya aku sebagaimana aku memeluknya. Terasa erat. Terasa hangat terasa hatiku tahu, tak perlu kata-kata penyesalan untuk diucapkan. ya! Kini hatiku tahu… bahwa hatiku masih terlindungi, bahwa hatiku masih menyimpan setitik rindu akan dirinya. Dikecupnya keningku. Begitu terasa lembutnya. Dan kugenggam dan kucium telapak tangannya seolah hatiku sedang pasrah.
Sayup-sayup kudengar suara mobil ranti menderu menjauhi rumah kami. Dari balik dekap tubuh suamiku, berdiri sosok kecil yang sungguh membuatku terasa begitu lengkap. Kusambut dan kupeluk cium dengan tangis haru yang begitu bahagia. Buah hatiku.. permataku.
Malam terasa semarak dengan kerlip bintang dilangit yang pekat. Dan bulan seakan tersenyum menyambut kebersamaan kami. Dan angin malam yang mendesir seolah suara anak-anak berkejaran meramaikan indahnya hari. oh ibu… terimakasih untuk seluruh do’a mu. kini aku tahu artinya menjadi seorang wanita. kini aku tahu arti sebuah cinta. kupanjatkan doaku untuk ayah dan ibu… doaku untuk sahabat-sahabatku.. dan doaku untuk semua pencari cinta dalam naungan yang sakinah.
-Bhre Hru Cakra-
– Surabaya, Agustus 2008 -

wow..bagus bgt, semua terlukis dalam suatu tulisan secara jelas, dan mudah untuk dipahami.
sip..nice
keren bgt dah
hemmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm
wow, great!….u have many inspiration and imagination,..good written,..and why dont u make a “novel”,………i like urs