Suara-Suara

Pelan-pelan ku buka mataku dengan kepala yang masih sangat pusing. Tapi yang kudapati hanyalah kegelapan disekelilingku. Berkali-kali kupandang sekeliling untuk mengetahui keberadaanku ditempat ini. tempat ini serasa luas dan lapang, hanya ada sosok samar yang tak jelas yang terasa jauh didepanku. Sebab tempatku berada kini memang gelap. Seolah tak ada cahaya yang mau menerangi. Dan kuperhatikan sosok itu yang kadang tampak samar dan kemudian hilang ditelan gelap.
“Jadi kau sudah kembali rupanya” kata sosok yang samar itu dengan suara yang terasa seperti gemuruh.
“ siapa kau? dan dimanakah aku?” tanyaku penasaran. Tapi sosok itu mendadak hilang kembali dalam kegelapan. “ hai tunggu! jangan pergi, katakan dimana aku” kataku seraya berusaha bangkit untuk menghampirinya. Mendadak aku jatuh kembali sebab kurasakan kakiku tak bisa digerakkan, kuraba kakiku berkali-kali tapi aku tak bisa merasakan apa-apa, kakiku telah mati rasa. Mendadak aku diliputi ketakutan ketika ketika kudengar suara-suara yang terasa jauh. Aku tak tahu dimana arah suara itu tepatnya. Sebab suara itu tak begitu jelas, terasa samar. Dan yang kutahu suara itu tak datang dari sosok yang samar tadi. Suara yang terdengar ini seperti berirama.
“ kau dengar suara itu?” tanya sosok samar yang mendadak berada di arah kiriku tapi keberadaannya masih terasa jauh. “ ya, suara apakah itu? rasanya seperti kukenal“ tanyaku kearah sosok yang samar itu. tapi lagi-lagi sosok itu menghilang cepat. “ hai tunggu! adakah orang lain selainku ditempat ini? sebab tak mungkin aku sendiri karena aku dengar ada yang menyerukan suara itu” seruku. Tak ada jawaban dari sosok samar itu. yang kurasakan kini ketakutan yang mulai menjalar ke kudukku karena kegelapan tempat ini mulai semakin pekat seolah menghimpitku.
“mulailah kau mengenal suara-suara itu sebab jika kau masih lupa aku akan datang dari kiri kananmu, dari depan belakangmu!” hardik suara yang gemuruh dari kegelapan yang entah dari mana arahnya.
“ Tolonglah aku!…Kenapa disini begitu gelap? Aku tak bisa melihat apa-apa. Tidak satupun yang bisa kuraih sebab tiada apapun disekelilingku. Tolonglah… tolonglah hai kau yang disana! Jika kau memang ada. Marilah, kesinilah, berilah aku sesuatu sebab aku tak bisa kearahmu. Kaki ku mati rasa. Aku tahu kau ada disana. Sebab aku sayup sayup mendengar suaramu. “ kataku dengan rasa ketakutan. “Suara itu, suara yang pernah kukenal dulu. Dulu sekali. Tapi aku lupa. Ya aku lupa tapi aku serasa mengenal suaramu. Suara-suara seperti masa yang hilang diwaktu lalu. Sebentar coba kuingat-ingat” kataku seraya mencoba mengingat-ingat.
“ya dulu sekali. Ketika aku kecil ditempat yang menghampar hijau karena rumput, yang kuning keemasan karena padi. Yang gemericik karena sungai-sungainya. Ya. tempat itu, serasa aku mengenalmu ditempat itu. Disebuah pondok kecil itu, pondok kayu bambu. Entah orang menyebutnya apa? Aku lupa. Mungkin, ya surau. Surau kecil kami, surau bambu. Begitulah aku dan anak-anak lain menyebutnya. Disitulah aku rasanya pertama kali mendengar suaramu. Karena suara itulah aku bergegas ke pondok itu. Tapi aku lupa sebab suaramu kini sayup-sayup benar.” Kataku sambil berusaha berkonsentrasi menangkap suara-suara. Tapi telingaku seolah kemasukan pasir, terasa buntu. Dan kegelapan yang mulai merambat kearahku membuat jantungku berdetak cepat.
“Tolonglah aku! Berilah aku sedikit cahaya. Sebab kegelapan ini membuat mataku tak bisa memejam, Sedikit pun tidak. tempat kupijak begitu hitam, sekelilingku begitu kelam. Hai kau yang disana! kudengar suaramu lagi. Masih sayup-sayup benar. Tapi aku serasa mengenal suara itu. Dulu. Ya dulu sekali. Tapi kini suara mu membuatku mengingat kembali masa-masa yang hampir kulupa. Ya kini aku ingat. Ketika usiaku duapuluh, aku ingat betul. Sebab bapakku waktu itu sudah tiada. Hanya tinggal aku dan ibu. Sawah telah jadi belukar. Tegalan telah meranggas. Dan jiwa mudaku yang tak betah akhirnya pergi ke tempat yang disebut sebagai kota. Tak pernah kulihat waktu itu kota yang siang hari terasa begitu gagahnya. Dan malam hari begitu gemerlap seolah mengalahkan kerlip bintang dilangit.” Kataku sambil menoleh kesegala arah berharap ada yang mendengarku. tapi kini suara yang sayup-sayup itu membuatku mulai mengerti, hatiku mulai merindukan belukar-belukar itu. Sebab orang mulai menyebut kota yang gagah itu sebagai rimba belantara.
“Hai kau yang bersuara! kemarilah, sebab aku rindu akan suara-suara itu. Dulu sekali. aku serasa mengenalmu. Yang kini hilang tak kukenal. Entah kenapa aku bisa lupa kepada suara-suara itu. Mungkin, ya mungkin ketika aku mulai lapar dikota itu. Ketika waktu serasa begitu cepat seperti roda-roda yang berputar melewatiku. Ketika udara terasa pekat karena asap yang menyeruak kemukaku. Ketika mereka yang lalulalang seolah mengejekku, bahwa aku ini cuma orang lapar yang merusak pemandangan rimba belantara. Ya betul. Aku ingat kini tepatnya aku lupa kepada suara-suara itu. Ketika aku sudah bosan dengan keadaanku dan mengatakan kepada diriku, akan kuikuti orang yang bisa memuaskan laparku. kemudian aku bertemu orang yang tak percaya kepada suara-suara itu. dia tak peduli pada suara-suara itu. dan aku pun sudah lebih tak peduli lagi. Sebab menurutku suara-suara itu tidak bisa membuat perutku kenyang, membuat hausku sirna. Yang penting aku sudah tidak merasa lapar. Dan orang-orang tak lagi memandang dengan memicingkan mata ke arahku.” Kataku seraya mengingat wajah orang itu dulu yang kini juga terasa samar yang kuingat hanyalah kata-kata orang itu terasa terpatri dikepalaku. Aku tak tahu kenapa aku begitu mudah ingat kata orang itu dari pada mengingat suara-suara di tempat ini. Ya aku ingat betul kata orang itu, “makanlah sepuasmu. Minumlah berteguk-teguk kau mampu dan ambilah kota yang gagah itu!, semua itu memang untukmu. jangan pedulikan bagaimana caramu mengambil semua itu, sebab jika kau tak peduli caranya kau akan jadi pintar, lebih pintar dari penipu manapun!”. Ya kata-kata orang itu masih terpatri dikepalaku seakan sebuah ajaran yang tak boleh lepas hilang. Seolah sebuah ajaran yang ditulis disebuah kitab. Kitab hatiku sendiri. Kini aku merasa ingat mulanya aku lupa suara-suara itu. Sebab semakin aku makan, semakin lapar pula perutku. Dan semakin aku minum, rasanya belum seteguk, rasanya masih penuh di botol, belum dituang digelas-gelas kristal yang kemilau.
“Hai kau yang disana, tolonglah aku. Tidak kah kau lihat kini? kaki ku yang mati rasa ini memaksa diriku menyeret tubuh yang dulu penuh segala makanan dan minuman ke arahmu. Yang kini perutku terasa seperti batu. Yang tiap kali aku bergerak tubuhku terasa pedih seakan tempat ini penuh duri. sebab aku kini sangat rindu akan suara-suara yang kau serukan. suara yang dulu serasa kuingat tapi masih kulupa. Suara yang dulu masih ada di salah satu bangunan tua kota yang gagah itu. Tapi aku tahu orang-orang yang lewat bangunan itu seakan tak peduli lagi pada suara-suara yang kau serukan. Seakan mereka lebih peduli pada bercak dan kotoran yang melekat di mobilnya, ibarat bercak dan kotoran yang walau cuma sedikit itu seperti aib mencoreng muka mereka. seakan orang-orang lebih peduli pada kata-kata laksana wabah ganas yang keluar dari mulut-mulut orang yang lalu lalang itu.” kini aku berbicara seakan bercerita tentang diriku di tempat yang terasa kosong dan gelap ini. tapi aku kini aku seakan tak peduli sedang bicara dengan siapa dan kepada siapa. Sebab kegelapan tempat ini mulai membuatku seakan gila. Dan tiba-tiba aku mendengar suara-suara itu lagi.
“Tolonglah aku. kau yang disana. Sebab aku mendengar suaramu lagi. Tapi masih sayup-sayup benar. Tidakkah kau kasihan pada diriku ini? sekujur tubuhku kini terasa sangat pedih. pedih yang kian menjadi tiap kali kau serukan suara-suara yang dulu terasa kuingat. Sebab kurasakan duri yang terserak di tempat gelap ini. terserak seperti batu bata dari bangunan tua dikota yang gagah itu. Ya. kini aku ingat. Bangunan tua yang menyerukan suara-suara yang terasa kukenal itu telah aku luluh lantakkan. Seluluh lantak hatiku dulu, ketika bertemu wanita jalang itu. yang bibir berlipstiknya mendesah menggelora, yang kerling matanya seakan jarum kait menancap, menyeret semua kelakian untuk mengikuti kemanapun dia pergi. Ya karena wanita cantik itu, yang wajahnya mengkilap seperti porselen, yang hatinya sekelam tempat ini, yang memainkan hati tiap nafsu dikota yang gagah itu, bangunan tua itu telah rata dengan tanah sebagai buah obsesi ku untuk mengalahkan tiap nafsu yang ingin mendapatkan wanita penggoda itu.”
kini suara-suara yang kudengar kembali itu kini seakan membuat otakku porak-poranda , seakan memaksaku mengingat kembali masa dulu yang ku lupa. Masa aku mengenal gadis desa itu, yang bibirnya tak berlipstik, yang senyumnya disembunyikan malu-malu, yang bila pipinya merona bukan karena bedak dan segala sumpah serapah akan tetapi malu bila aku curi pandang kearahnya, yang serasa hatinya luruh seperti bunga yang rontok kelopaknya satu persatu dikarenakan bila tak mendapati aku di surau bambu itu. Ya kini seakan otakku sendiri menertawakan aku, kenapa meninggalkan gadis desa itu demi sebuah penyesalan karena wanita penggoda dikota yang gagah itu.
“Tolonglah aku. Berilah aku sedikit cahaya. Walau barang sesaat saja, biar aku tahu kemana harus menuju ke arahmu. Sebab dadaku kini seakan tercabik karena rindu tiap kau serukan suara-suara itu. Yang dulu sekali terasa merdu. Yang karena suara itu orang-orang desa bergegas-gegas ke pondok bambu itu. Ya surau bambu kami. Melangkah seakan melayang dengan ringannya. Ya kini aku ingin mengenalmu kembali setelah sekian lama aku lupa. Tapi apa daya kaki ku mati rasa. Tubuhku tak bergerak karena seakan berisi batu.” Kataku sambil tanganku berusaha menarik tubuhku ke arah suara-suara itu.
“Tolonglah aku! Buat sekali ini saja, bawa aku pergi dari tempat ini. tak peduli bila harus kau seret dengan apa, sebab tak ada yang menolongku ditempat ini karena aku hanya mendengar suaramu.” Kataku dengan suara serak seolah habis karena berteriak
“Tidak satupun bahkan tidak pula ibuku, sebab ibu ku telah menjadi bangkai. Bangkai yang telah mengutukku dulu sekali. Kenapa dulu ibuku harus datang ke kotah gagah itu. sebab andai dia tak datang, tak perlu dia harus mengutukku segala.dengan semua kemelaratan nya” kataku dengan suara lirih. Kini kurasakan sebuah penyesalan yang teramat dalam. Sebuah penyesalan yang terasa sia-sia. aku kini menangis tersedu. Menangis membayangkan kembali masa-masa didesa. Dan sayup-sayup aku mendengar suara-suara itu lagi. Tapi kini aku tak lagi berusaha mencarinya. Sebab suara-suara itu seakan menghanyutkan aku. Membuatku mulai mengerti, kenapa ibu harus datang dikota gagah itu. disebabkan rasa kasih seorang ibu.rasa kasih yang terasa tak habis-habis. Ya kini aku mengerti. Dan aku pun menangis sambil memukul-mukul dadaku seolah hendak memecahkan penyesalan yang terasa membatu diseluruh tubuhku.. Kupukul dadaku dengan iringan suara lirih yang berulang ulang “ibu…ibu…ibu….”
Tiba-tiba tempatku berada kini mendadak terang benderang laksana diterangi kilat dan kemudian disusul suara gemuruh yang membuatku tersentak dan pelan-pelan sekelilingku mulai menampakkan bentuknya yang makin lama-makin jelas. Dan kemudian kudapati diriku ternyata berada di kamarku. Dengan sekujur tubuh berkeringat dan napas tersengal aku segera bangkit dan duduk di tepi kasurku. Kuhela napas dalam dalam dan kuhembuskan seakan menemukan sebuah kelegaan. Ya kini aku lega, ternyata itu hanyalah mimpi yang datang untuk kesekian kali. Dan aku pun tersenyum kecil yang kemudian berubah menjadi tawa. ya… kini aku tertawa… seolah mengejek mimpi-mimpi yang datang dan pergi. Mimpi-mimpi yang seolah cemburu dengan keadaanku kini. bagi orang sepertiku… apalah artinya mimpi…
Dan tawaku kian lama kian lepas. Sambil tanganku mengambil botol yang ada didekat kasur dan kuteguk isinya yang terasa… whisky.

- Surabaya, september 2008 -

Komentar
  1. aisasholikha mengatakan:

    hemmmmmmmmmmmmm

    i’ts good

    g tahu neh mau kasih komen apa :P

    tak tunggu cerpen2 berikutnya ya om ^_^

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s